Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya

Johnny

 Kita ditantang bekerja tanpa mengenal lelah agar dapat meraih keunggulan dalam pekerjaan kita. Tak semua orang terpanggil untuk menekuni pekerjaan profesional atau spesialisasi; bahkan lebih sedikit lagi yang naik tingkat kejeniusan dalam seni dan ilmu; banyak yang menjadi pekerja di pabrik, ladang, dan jalanan. Tapi, tak ada pekerjaan yang berarti.

 

Semua pekerjaan yang mengangkat kemanusiaan itu memiliki martabat dan kepentingan, dan harus dilaksanakan dengan keunggulan yang sungguh-sungguh. Jika seseorang menjadi penyapu jalan, Ia semestinya menyapu seperti Michelangelo melukis, atau Beethoven menggubah musik, atau Shakespeare menulis syair. Ia semestinya menyapu jalan begitu baik sehingga semua penghuni langit dan bumi berhenti untuk berkata, “Disini hidup seorang penyapu jalan yang hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan baik.”

-Martin Luther King Jr.-

 

 

Musim gugur lalu aku diminta memberi ceramah di depan 3.000 orang karyawan jaringan supermarket besar di Midwest tentang membangun kesetiaan pelanggan dan menghidupkan kembali semangat di tempat kerja.

 

Salah satu ide yang kutekankan adalah pentingnya menambah “ciri-ciri” pribadi ke dalam pekerjaan. Dengan segala macam penciutan, rekayasa-ulang, perubahan teknologi yang luar biasa, dan tekanan di tempat bekerja, aku merasakan bahwa amatlah penting untuk mencari jalan agar kita merasa nyaman tentang diri dan pekerjaan kita. Salah satu cara ampuh untuk melakukannya adalah dengan melakukan sesuatu yang membedakan kita dari orang lain yang memiliki pekerjaan sama dengan kita.

 

Aku menceritakan contoh pilot United Airlines yang setelah segala sesuatu dalam kokpit terkendali, menghampiri komputer, memilih beberapa nama penumpang secara acak dan menuliskan pesan terima kasih bagi mereka. Seorang seniman grafis yang bekerja denganku selalu menyertakan sebuah permen karet bersama semua karyanya yang dikirim kepada pelanggannya, supaya tak ada yang membuang surat kirimannya. Seorang petugas bagasi Northwest Airlines memutuskan bahwa ciri pribadinya adalah mengumpulkan semua label bagasi yang terjatuh dari koper penumpang, yang dulunya hanya dibuang ke tempat sampah, dan dalam waktu luangnya ia mengirim kembali label itu dengan ucapan terima kasih karena terbang bersama Northwest. Seorang manajer senior yang bekerja dengan saya memutuskan bahwa ciri pribadinya adalah menempelkan kertas tisu (untuk menyeka air mata) pada kertas memo yang ia tahu isinya tak akan disukai karyawannya.

 

Setelah menceritakan beberapa contoh tentang bagaimana orang menambahkan semangat unik mereka pada pekerjaan mereka, aku menantang para pendengar untuk berkreasi dan menciptakan ciri pribadi mereka sendiri.

 

Tiga minggu setelah ceramah itu, teleponku berdering di suatu sore. Orang yang menelepon memberi tahu bahwa namanya Jhonny dan ia adalah pembungkus di sebuah toko. Ia juga memberi tahu bahwa ia mengidap down syndrome. Ia berkata, “Barbara, saya suka yang kamu katakan!” Lalu meneruskan bahwa sepulangnya malam itu ia meminta ayahnya untuk mengajari cara menggunakan komputer. Sekarang setiap malam saat pulang, ia mencari sebuah “renungan untuk hari itu”. Dan ia berkata, kalau tidak bisa menemukan yang disukainya, ia “membuatnya sendiri!” Lalu ia mengetiknya, mencetak beberapa copy, memotongnya, dan menuliskan namanya di belakang setiap potongan. Keesokan harinya, saat ia memasukkan belanjaan ke dalam tas belanja “dengan gerakan dramatis” ia memasukkan renungan hari itu ke dalam tas setiap orang, untuk menambahkan ciri pribadinya dengan cara yang kreatif, menyenangkan dan hangat.

 

Sebulan kemudian, manajer toko meneleponku. Ia berkata,”Barbara, kamu pasti tidak percaya kejadian hari ini. Waktu saya turun ke toko pagi ini, antrian di kasa Johnny tiga kali lebih panjang dari antrian lainnya. Aku panik dan berteriak,’Buka antrian lain! Panggil karyawan lagi,’ tapi para pelanggan berkata, ‘Tak usah! Kami ingin antri di jalur Johnny, kami ingin mendapat renungan hari ini!’”

 

Manajer itu berkata, seorang wanita menghampirinya dan berkata,”Saya tadinya berbelanja seminggu sekali. Sekarang saya kemari setiap kali keluar rumah karena saya ingin mendapatkan renungan hari ini!” (Bayangkan saja apa artinya ini!) Ia mengakhiri percakapan dengan berkata,”Coba tebak, siapa orang terpenting di seluruh toko? Johnny, tentu saja!”

 

Tiga bulan kemudian, Ia menelepon lagi,”Kamu dan Johnny telah mengubah toko kami! Sekarang, di bagian bunga, kalau ada bunga patah atau corsage yang tidak terpakai, mereka turun ke toko dan mencari wanita tua atau gadis kecil dan menyematkan bunga itu kepada mereka. Salah seorang pengepak daging kami sangat keranjingan Snoopy, jadi Ia membeli 50.000 gambar tempel Snoopy, dan setiap kali membungkus sepotong daging, Ia menempelkan gambar Snoopy. Kami semua senang, begitu pula pelanggan kami!”

 

Nah, itu baru namanya semangat kerja!

 

 

 

By: Barbara A. Glanz – A 3rd Serving of Chicken Soup for the Soul 

RELATED ARTICLES :

Copyright © 2016 - 2018 Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya. All rights reserved.