Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya

Berjiwa Besar

 

 

 

 

Abraham Lincolnlahir di Hardin County, Kentucky, Amerika Serikat 12 Februari 1809. Pada saat Ia masih menjadi pengacara muda, Ia seringkali berkonsultasi dengan pengacara yang lain tentang kasus klien yang dihadapinya.

 

Suatu hari Ia sedang menunggu untuk berkonsultasi tentang kasus kliennya, Lincoln duduk di ruang tunggu pengadilan untuk menjumpai seorang pengacara senior. Tetapi ketika pengacara senior itu bertemu dengan Lincoln dia hanya melihat sekilas dan kemudian berteriak, “Apa yang sedang dilakukan orang ini disini? Singkirkan dan usir dia dari sini! Aku tidak akan berurusan dengan seorang monyet yang kaku!”

 

Saat mendengar perkataan kasar senior itu, Lincoln hanya diam dan bersikap pura-pura tidak mendengar apa pun. Walaupun Ia tahu, itu adalah sebuah hinaan yang disengaja. Meskipun malu karena menjadi perhatian banyak orang, Lincoln tetap bersikap tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa. Hingga kemudian sidang kasus yang di pegang senior itu berlangsung, dan Lincoln diabaikan begitu saja.

 

Ketika persidangan dimulai, pengacara senior yang telah begitu kejam menghinanya ternyata seorang pengacara hebat yang dengan briliant membela kliennya. Penanganannya atas kasus tersebut membuat Lincoln kagum. Dalam hati Ia berkata, “Nalarnya sungguh sangat bagus. Argumen yang dilontarkan lengkap dan sangat tepat sasaran. Terlihat begitu tertata dan benar-benar disiapkan! Aku akan pulang dan harus belajar lebih giat lagi untuk belajar hukum.”

 

Waktu pun berlalu....

 

Ketika Lincoln mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, Ia memiliki saingan utama yaitu Edwin M. Stanton. Pengacara yang telah menghina dirinya saat Ia menjadi pengacara muda. Stanton memakai setiap kesempatan sekecil apa pun untuk menjatuhkan Lincoln, jika perlu dengan fitnah sekali pun. Hingga akhirnya pada 4 Maret 1861 Abraham Lincoln yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-16.

 

Meskipun Stanton membenci dirinya dan telah merendahkannya, namun Lincoln justru memilih Stanton menjadi Menteri Peperangan kala itu. Penasihat demi penasihat bergantian mengingatkan Lincoln, memprotes pilihan Sang Presiden. Tapi Lincoln tetap pada pendiriannya.

 

Sikap kenegarawanannya nampak sekali ketika Ia berkata, “Ya, saya tentu mengenal Tuan Stanton, serta menyadari semua hal buruk yang pernah Ia katakan mengenai saya. Tapi setelah mempertimbangkan kebaikan seluruh negara, saya tiba pada kesimpulan bahwa  Tuan Stanton adalah orang yang paling baik untuk jabatan tersebut.”

 

Abraham Lincoln tidak pernah lupa bahwa Stanton adalah pengacara berotak cerdas, yang amat dibutuhkan negaranya. Pilihan Lincoln terbukti tidak meleset. Stanton menjadi menteri yang paling baik, dan pembantu Lincoln yang paling setia. Hingga beberapa tahun kemudian Lincoln meninggal, dan dari semua komentar terbaik tentang Lincoln, komentar Stanton adalah yang terbaik. Ia berkata, “Lincoln akan tetap hidup dari masa ke masa,” “He now belongs to the ages.”

 

 

Sahabat, Lincoln menjadi salah satu cerminan bagi kita untuk menjadi pribadi yang berjiwa besar dan mau memaafkan hingga dapat bangkit dan berhasil diatas hinaan dan cemooh orang lain. Menjaga suasana hati untuk tidak membiarkan sikap buruk orang lain menentukan emosi dan cara kita bertindak. Tetap berbuat baik dan memaafkan. Mari mulai menjadikan “sampah” menjadi “pupuk” yang dapat membuat kita lebih tumbuh dan berkembang baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja maupun lingkungan sekitar kita.

 

"I Destroy My Enemies, When I Make Them My Friends"

-Abraham Lincoln-

 

 

*saduran dari berbagai sumber

 

 

 

 

RELATED ARTICLES :

Copyright © 2016 - 2018 Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya. All rights reserved.